Sejarah Desa

Gapura Desa Ketitangwetan

Desa Ketitang Wetan dibuka pertama kali oleh Mbah Mursyidin dan Mbah Sulasih, Mbah Mursyidin yang tak lain adalah murid dari Sunan Muria. Konon katanya, sebelum kedatangan santri kinasih yang diterjunkan di desa ini, waktu itu belum terdapat julukan nama desa atau masih dalam bentuk alas dan semak belukar yang dianggap singet. Namun karena kegigihan Mbah Mursyidin yang merupakan ahli thariqoh, akhirnya makhluk Allah seperti jin dan syetan dapat ditundukkan oleh mbah Mursyidin.
Pada saat Mbah Mursyidin dan Mbah Sulasih datang, tempat ini masih berbentuk alas yang padang, artinya masih berbentuk tanah lapang yang memang belum berpenghuni sehingga belum terdapat satu pun rumah maupun bangunan. Beliau merupakan seorang kyai yang gemar memelihara jangkrik.

“Pada suatu waktu, beliau membuat tempat atau rumah jangkrik dengan bambu yang dipotong satu ros dan dilubangani kemudian ditutup kembali yang disebut dengan contang (brumbung). Kebetulan jangkrik yang beliau miliki tinggal satu dan kemudian jangkrik tersebut hanya memiliki satu kaki sehingga disebut ‘tiktang’. Pada suatu hari, terjadi banjir besar yang melanda seluruh desa, kemudian jangkrik yang berada dalam contang itu hilang dibawa oleh arus banjir, jangkrik itu di cari sampai ke sebelah selatann pantura dan alhamdulillah jangkrik masih ada dalam contang dan dibawa pulang. Dan mbah Mursyidin mempunyai ucapan “jika besok disini akan menjadi sebuah desa, akan saya namai Ketitang”.

Ketitang dibagi menjadi 2, yaitu Ketitang Kulon dan Ketitang Wetan. Antara Ketitang Kulon dan Ketitang Wetan dipisahkan oleh sawah yang cukup luas. Wilayah perkampungan orang ketitang kulon lebih dekat dengan pemerintahan Desa Raci daripada pemerintahan Desa Ketitang itu sendiri. Lalu secara administratif, wilayah Ketitang Kulon masuk desa Raci, dan Ketitang Wetan berdiri sendiri. Dengan jumlah penduduk 2.812 jiwa, mempunyai lebar sekitar hampir 416,719 hektar dan terbagi terbagi dalam 10 RT.